Selasa, 21 Juli 2015

Berita Bola De Laurentiis dan Mimpi Mengitaliakan Napoli

Berita Bola De Laurentiis dan Mimpi Mengitaliakan Napoli

sumber berita De Laurentiis dan Mimpi Mengitaliakan Napoli : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/484ea7db/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C210C20A360A40C29723140C14970Cde0Elaurentiis0Edan0Emimpi0Emengitaliakan0Enapoli/story01.htm
Pencapaian Napoli pada Serie A musim lalu tampaknya membuat Aurelio de Laurentiis, sang presiden, merasa tidak puas. Partonopei, julukan Napoli, harus berpuas diri karena cuma duduk di peringkat kelima pada klasemen akhir.

Alhasil mereka gagal mendapatkan kesempatan berlaga di Liga Champions 2015/2016. Padahal itulah target yang dibebankan Napoli kepada Rafael Benitez, pelatih Napoli kala itu.

Capaian Gokhan Inler dkk. itu lebih buruk dari musim sebelumnya. Pada musim 2013/2014, Benitez mampu membawa kesebelasan asuhannya menempati posisi ketiga, yang membuat mereka mengikuti kualifikasi Liga Champions.

Di musim itu pula Napoli berhasil menggondol juara Coppa Italia. Mereka meraih trofi itu dengan mengalahkan Fiorentina di final. Akan tetapi di musim lalu mereka terhenti di babak semifinal.

Ketika Benitez akhirnya memang hijrah ke Real Madrid, itu sepadan dengan ketidakpuasan De Laurentiis kepada Benitez. Sang Presiden pun mengganti pelatih asal Spanyol tersebut dengan Maurizio Sarri yang cuma memiliki rekam jejak melatih kesebelasan sekelas Empoli pada Serie A 2014/2015.

De Laurentis memang tipikal presiden yang tidak ragu melepas pelatih yang dianggapnya buruk. Contohnnya saja Edoardo Reja. Sebagai peramu taktik yang berjasa mempromosikan Napoli sejak masih berkutat di Serie C1 pada 2005 sampai berhasil kembali berkiprah di Serie A pada 2007, ia toh tetap dipecat oleh De Laurentis karena prestasi buruk pada musim 2008/2009.

Begitu juga dengan Roberto Donadoni. Mantan pemain AC Milan itu cuma sanggup bertahan tujuh bulan di Napoli, dari Maret sampai Oktober 2009. Ia didepak karena dianggap gagal membawa timnya ke papan atas Serie A.

Ambisi De Laurentiis memang sangat besar sejak mengakusisi Napoli pada 2004. Ia mengakuisisi Napoli tak lama setelah klub itu mengalami kebangkrutan. Sudah mengembalikan Napoli ke Serie A pun dirasa masih jauh dari cukup. Ia mengingingkan lebih. Ia ingin Napoli tetap berada di tiga besar, bahkan tak sunggan bermimpi merengkuh scudetto seperti yang terakhir kali diraih pada 1989/1990 bersama Diego Maradona.



Kombinasi ambisi dan otoritarianisme kepemimpinannya itulah yang membuatnya menjadi salah satu presiden sensasional dalam atmosfer Serie A. Hal sensasional yang sering dilakukannya yaitu komentar-komentar pedas terhadap kinerja wasit di Italia. Bahkan ia pernah meminta Federasi Sepakbola Italia, FIGC, untuk memeriksa Juventus Stadium karena diduga memiliki "terowongan rahasia" untuk Antonio Conte, yang kala itu masih membesut Juventus, agar bisa menyelinap ke ruang ganti kala menjalani masa hukuman.
Nuhun for visit De Laurentiis dan Mimpi Mengitaliakan Napoli