Rabu, 22 Juli 2015

Berita Bola Dunia yang Paralel dalam Dua Film Pendek Sepakbola

Berita Bola Dunia yang Paralel dalam Dua Film Pendek Sepakbola

sumber berita Dunia yang Paralel dalam Dua Film Pendek Sepakbola : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/485b3900/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C230C0A824290C29732680C14930Cdunia0Eyang0Eparalel0Edalam0Edua0Efilm0Ependek0Esepakbola/story01.htm
Konsep multiverse adalah omong kosong bagi sebagian besar orang. Bagi yang percaya dan mengiyakan keberadaan dunia paralel, alam semesta yang kita saksikan dan tinggali ini bukanlah satu-satunya alam semesta. Ada miliaran semesta lain di luar sana.

Jamal Rahmati, kartunis dan sineas asal Iran, mencoba mengutarakan teori multiverse lewat sepakbola anak-anak Iran. Pada 2014 ia membuat film pendek berdurasi 6 menit 17 detik yang berjudul Multiverse. Sama seperti judulnya, film ini berkisah tentang bagaimana membuktikan kebenaran teori multiverse tersebut. Hanya saja, pada akhirnya, tentu kebenaran teori multiverse tidak dibenarkan secara harfiah lewat film ini.

Film ini menceritakan penulis tua yang agaknya dikenal sebagai orang yang tak bersahabat. Ia, dalam film ini, digambarkan sedang berupaya menyelesaikan tulisannya yang membahas teori multiverse. Di tengah-tengah pekerjaannya, ia mendengar suara bel rumahnya dibunyikan. Begitu pintu dibuka, di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki dengan wajah takut. Rupanya ia bermaksud meminta bola yang melambung sampai ke teras atas rumah si penulis.

Bocah tersebut adalah satu dari lima anak yang bermain sepakbola di gang kecil di dekat rumah si penulis. Dalam permainannya mereka menggunakan dua gawang mungil yang sepertinya  merupakan hasil pekerjaan tangan mereka sendiri. Kedua gawang tersebut dipisahkan oleh jarak yang tak seberapa, paling jauh hanya sekitar tiga meter. Sepertinya memang menyesuaikan dengan sempitnya lahan yang digunakan.

Si penulis tua, walaupun menunjukkan raut muka yang tak senang, akhirnya mengembalikan bola tersebut. Buat mereka, bola itu sedemikian pentingnya. Tanpa bola tak ada permainan, tanpa permainan keriaan beberapa puluh menit itu juga tak bakalan ada.

Sialnya, keberadaan bocah-bocah tersebut tak hanya sekali mengganggu si penulis tua. Kali ini justru lebih parah, bola yang mereka gunakan menghantam dan memecahkan kaca jendela si penulis tua yang terlihat selalu gelisah itu.

Geram karena ulah anak-anak tersebut, si empunya rumah langsung merobek bola dengan menggunakan pisau. Ia tahu bola tersebut merupakan benda penting buat anak-anak. Tanpa bola tidak ada permainan dan tanpa permainan. Tapi buat si penulis, jika tak ada bola, maka tak akan ada juga yang mengganggu pekerjaannya.

Dan benar saja, bola yang rusak itu membuat anak-anak tadi tak bisa melanjutkan permainannya. Lucunya, walau tak bisa lagi bemain, tak satu anak pun yang meninggalkan “lapangan” mininya. Mereka terduduk lesu sambil memandangi bola yang bentuknya pun sudah tak menyerupai bola lagi.

Sementara itu, si penulis tua juga tak serta-merta bisa melanjutkan pekerjaannya walaupun permainan sudah berhenti. Ia, tetap saja kehilangan konsentrasi walau tak ada suara berisik anak-anak yang bermain. Berkali-kali ia mengintip ke arah kelima bocah tersebut, berkali-kali pula ia menyaksikan bagaimana murungnya wajah mereka.

Singkat cerita, si penulis tersebut memutuskan memberikan bola baru buat anak-anak tadi. Bukan benar-benar bola untuk sepakbola, ia memberikan globe yang selama ini diletakkan di meja kerjanya. Apapun bolanya, yang jelas anak-anak tersebut bisa melanjutkan kembali permainannya. Dan ajaibnya, si penulis seolah mendapat ide tentang apa yang harus ditulisnya. Ia pun bisa melanjutkan pekerjaannya menyusun sebuah tulisan tentang konsep multi-verse.
Nuhun for visit Dunia yang Paralel dalam Dua Film Pendek Sepakbola