Selasa, 21 Juli 2015

Berita Bola Francesco Totti: Pangeran yang Masih Memimpin Prajurit Roma

Berita Bola Francesco Totti: Pangeran yang Masih Memimpin Prajurit Roma

sumber berita Francesco Totti: Pangeran yang Masih Memimpin Prajurit Roma : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/484b4287/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C210C13360A40C29721530C14970Cfrancesco0Etotti0Epangeran0Eyang0Emasih0Ememimpin0Eprajurit0Eroma/story01.htm
Memasuki musim 2015/2016, kita tak akan lagi melihat Steven Gerrard berseragam Liverpool. Pemain berusia 35 tahun tersebut memilih untuk meninggalkan The Reds yang sudah dibelanya sejak 1987 (akademi), atau 1998 saat menjadi pemain profesional. Gerrard memilih untuk meanjutkan karier bersama kesebelasan asal Amerika Serikat, Los Angeles Galaxy.

Berakhirnya loyalitas Gerrard bersama Liverpool pun dibarengi dengan berakhirnya pengabdian Xavi Hernandez bersama Barcelona. Xavi, yang pertama kali masuk akademi Barca pada 1991, meninggalkan Blaugrana untuk membela kesebelasan asal Qatar, Al Sadd.

Tak bisa dimungkiri, iming-iming pendapatan yang berlimpah di usia senja tentu menjadi pertimbangan penting bagi Gerrard dan Xavi. Di usia mereka yang sudah semakin renta sebagai pemain, tidak banyak kemungkinan mendapatkan penghasilan besar. Mereka memang pemain top, tapi di usia yang sudah tidak muda lagi, mereka tak bisa diharapkan bermain terus-menerus dalam iklim kompetisi yang ketat dan padat.

Hijrah ke MLS dan Qatar merupakan jalan tengah yang cukup sempurna, bukan hanya bagi keduanya saja, tapi juga untuk para pemain top lain yang masih ingin bermain sepakbola tapi sudah tak cukup kompetitif dengan kompetisi yang padat dan ketat. Mereka juga masih menerima bayaran yang besar. Ini akan menjadi bekal pensiun yang memadai, tentu saja.

Tapi hengkangnya Gerrard dan Xavi dari kesebelasan yang membesarkan namanya bukan menjadi pertanda bahwa loyalitas seorang pesepakbola telah mati di era modern ini. Di ibukota Italia, terdapat seorang pemain yang masih mengedepankan loyalitas di atas segalanya. Ya, loyalitas, itulah yang selama ini dipegang teguh Francesco Totti bersama AS Roma.



Masih Akan Menjadi Andalan Roma

Usia Totti tentunya sudah tak lagi muda. Bahkan jika dibandingkan dengan Xavi dan Gerrard, umur Totti lebih tua dibanding keduanya. Pada 27 September tahun ini, usia Totti sudah mencapai 39 tahun, setahun lagi menjelang kepala empat. Ini artinya, Xavi dan Gerrard masih tiga atau empat tahun lebih muda daripada Totti.

Memasuki usianya yang sudah di penghujung 30-an ini, Totti nyatanya masih menjadi penggawa Roma. Bahkan lebih dari itu. Musim lalu, kapten Roma itu masih menjadi andalan timnya, yang pada akhir musim menjadi runner-up Serie A di bawah Juventus.

Totti menjadi pencetak gol terbanyak Roma dengan 10 gol, dengan rincian delapan di Serie A dan dua di Liga Champions. Torehan tujuh assist-nya pun melengkapi pencapaian Totti pada musim yang lalu yang memiliki total penampilan mencapai 36 kali.

Belum ada penyerang yang bisa menggantikan Totti sebagai andalan Roma di lini depan. Musim lalu, Seydou Dombia hanya mampu mencetak dua gol setelah kedatangannya pada bulan Januari. Sementara Mattia Destro kalah bersaing dengan sang kapten sehingga ia harus hengkang ke AC Milan untuk mendapatkan menit bermain yang lebih banyak.

Pada musim yang baru, Roma boleh saja tengah berusaha untuk mendatangkan penyerang yang bisa menjadi andalan di lini depan selain Totti, seperti Edin Dzeko dari Manchester City. Tapi, ada striker baru atau tidak, Totti tetap akan menghiasi skuat Roma pada musim depan.

Untuk urusan skill mengolah bola, Totti masih dalam keadaan prima meski ia menjelang berusia 40 tahun. Visi bermainnya, tendangan akuratnya, operan-operan terukurnya, eksekusi penalti, dan pergerakannya untuk membuka ruang masih bisa diandalkan. Itulah yang sempat memunculkan perdebatan bahwa rasanya Totti masih layak membela timnas Italia pada Piala Dunia 2014.

Banyaknya dukungan pada Totti untuk turut serta dalam skuat timnas Italia ke Piala Dunia 2014 yang dihelat di Brasil itu tak membuat pelatih timnas Italia saat itu, Cesare Prandelli, memanggilnya. Prandelli akhirnya lebih memilih Mario Balotelli sebagai ujung tombak Gli Azzurri. Keputusan itu semakin dikritik setelah Italia gagal melewati fase grup dan Balotelli tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.

Totti sendiri sebenarnya memilih pensiun lebih dini bersama timnas Italia. Ia pensiun pada 20 Juli 2006 atau setelah menjadi bagian skuat timnas Italia yang menjadi juara Piala Dunia 2006. Saat itu, Totti baru berusia 30 tahun.



"Masalah utama saya adalah kekuatan fisik," ungkap Totti saat mengumumkan keputusan pensiunnya dari timnas. "Saya kemudian berkesimpulan bahwa saya tak bisa lagi bermain di banyak laga dalam setahun. Saya harus mengorbankan sesuatu. Dan sayangnya, saya harus mengorbankan tim nasional karena saya tak bisa menyerah untuk Roma. Roma adalah prioritas saya."

Hilangnya Totti dari skuat timnas Italia sempat membuat Italia kesulitan mencari pengganti sepadan. Hingga pada akhirnya, Totti menawarkan diri untuk kembali membela timnas tapi hanya untuk pertandingan-pertandingan penting saja seperti Piala Dunia atau Piala Eropa. Namun opsi itu tak diambil oleh pelatih timnas Italia, baik itu Roberto Donadoni maupun Prandelli.

Tapi, Totti tak berkecil hati atas keputusan pelatih-pelatih timnas Italia yang tak memanggilnya untuk turnamen-turnamen besar. Karena bagaimanapun, ia tetap mengedepankan masa depannya sendiri bersama Roma yang amat dicintainya.

Kapan Totti Pensiun?

Musim 2015/2016 akan menjadi musim yang ke-24 Totti bersama AS Roma. Pencapaian ini akan menyamai pencapaian Ryan Giggs (Manchester United), Bob Crampton (Blackburn Rovers), Konstantin Lyaskovskiy (CSKA Moskow), Paolo Maldini (AC Milan), Max Morlock (FC Nuremberg), Ted Sagar (Everton), dan Humood Sultan (Muharraq Club), sebagai pemain dengan one-club men terlama kedua sepanjang sejarah sepakbola.

Untuk menjadi pemain one-club men terlama sepanjang sejarah, Totti membutuhkan tiga musim lagi untuk membela AS Roma. Saat ini, rekor terlama dipegang oleh Sait Altinordu yang membela kesebelasan Turki, Altinordu S.K., selama 27 tahun pada 1929 hingga 1956.

Lantas, bisakah Totti melakukannya? Jika ia konsisten pada apa yang pernah ia ungkapkan pada 2013 lalu, Totti bisa saja memecahkan rekor tersebut. Dua tahun lalu, setelah mencetak gol ke 225-nya di Serie A yang menyamai rekor Gunnar Nordahl, ia mengatakan akan coba memecahkan rekor 274 gol legenda Italia, Silvio Piola.

"Melewati Piola? Saya akan pensiun jika saya berhasil melakukannya," ujar Totti saat itu.



Saat ini, atau dua tahun kemudian, Totti telah menambah pundi-pundi golnya menjadi 243. Ini artinya, ia masih membutuhkan 31 gol lagi untuk menjadi pemain dengan gol terbanyak di Serie A sepanjang sejarah.  Jika melihat musim lalu, di mana ia hanya mencetak delapan gol di Serie A, mungkin Totti membutuhkan empat musim lagi untuk menaklukkan Piola. Jika benar begitu, secara bersamaan ia juga akan berhasil menaklukkan rekor Altinordu sebagai one-club men terlama.

Secara pribadi, Totti mungkin bisa saja melakukannya. Apalagi ia pernah mengatakan akan bersama Roma baik di dalam lapangan, di bangku cadangan, di manapun. Totti memang menjadikan Giallorossi sebagai jalan hidupnya.

"Adalah ambisi terbesar saya untuk selalu terikat dengan warna ini (Roma). Saya tetap akan mendukung Roma di dalam lapangan, di bench, maupun di tempat mereka yang sedang atau akan mengenakan seragam ini. Saya selalu berhasrat dan memimpikan yang terbaik untuk tim ini," papar Totti lewat akun Facebook-nya pada akhir April 2015 lalu.

Maka pertanyaan ‘kapan Totti pensiun?’ menjadi pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya. Karena berdasarkan pernyataannya di atas, selama Totti masih bisa berlari dan dibutuhkan oleh Roma, Totti tetap akan menjadi penggawa Roma dan tak akan mengakhiri kariernya sebagai pesepakbola meskipun kontraknya bersama Roma akan berakhir pada pertengahan 2016.

"Saya lahir untuk bermain sepakbola dan akan mati dengan melakukan hal yang sama. Maka tidak dapat dimungkiri, bahwa saya akan terus berada di permainan ini, melakukan sesuatu dan berbicara tentang sepakbola. Saya akan 'melempar handuk' jika saya jika saya mulai sering melakukan kesalahan demi kesalahan," ucap Totti kepada GQ.



Menjadi Pangeran Roma Sampai Pensiun

Meski sudah semakin uzur, kemampuannya masih sempat membuat beberapa kesebelasan Major League Soccer (MLS) atau kesebelasan-kesebelasan Timur Tengah tertarik untuk menggunakan jasanya. Tapi, ternyata ucapan Totti soal ambisinya yang ingin memberikan yang terbaik untuk Roma hingga akhir kariernya bukan isapan jempol belaka.

Pada akhirnya, Totti mengajarkan kita bahwa loyalitas pada klub yang membesarkan namanya masih ada di tengah sepakbola yang semakin bergelimang kemewahan ini. Totti, meski bersama Roma ia hanya meraih satu trofi Serie A, dua trofi Piala Super Italia, dan dua trofi Coppa Italia dalam 23 tahun kariernya, tak tertarik untuk berganti seragam lain yang menawarkan prestasi atau kekayaan berlimpah.

Ya, Totti akan tetap menjadi penggawa Roma, akan tetap menjadi Pangeran Roma, hingga pengujung kariernya. Hingga Roma tak lagi membutuhkan tenaganya, yang rasanya masih menjadi teka-teki karena Totti, setidaknya hingga musim lalu, masih menjadi pemain yang begitu diandalkan untuk memimpin prajurit-prajurit Roma dengan segala kemampuan dan ketidakmampuannya.

===
*Penulis anggota redaksi @PanditFootball dengan akun Twitter: @ardynshufi

Nuhun for visit Francesco Totti: Pangeran yang Masih Memimpin Prajurit Roma