Minggu, 05 Juli 2015

Berita Bola Kegagalan Tata Martino Memanfaatkan Potensi Argentina

Berita Bola Kegagalan Tata Martino Memanfaatkan Potensi Argentina

sumber berita Kegagalan Tata Martino Memanfaatkan Potensi Argentina : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/47d8bf76/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C0A50C1813240C2960A80A30C1480A0Ckegagalan0Etata0Emartino0Ememanfaatkan0Epotensi0Eargentina/story01.htm
Chile akhirnya membuat sejarah dengan menjuarai Copa America untuk pertama kalinya sepanjang 99 tahun turnamen tersebut digelar. Pada partai puncak ini, mereka sukses mengalahkan Argentina melalui adu penalti.

Tidak ada gol yang tercipta pada waktu normal dari kedua kesebelasan, begitu juga saat memasuki babak tambahan. Namun, laga sendiri bukannya minim peluang, terutama dari Chile. Berstatus tuan rumah, La Roja tampil dominan sepanjang pertandingan.

Tercatat Alexis Sanchez dan kawan-kawan mampu melepaskan tembakan hingga 18 kali meski hanya 4 di antaranya yang tepat ke arah gawang. Sedangkan Argentina melakukan kurang dari setengahnya, yakni hanya menembak 8 kali dengan 6 tendangan yang masih melebar.



Pressing Sejak Menit Pertama

Sejak kick-off, Argentina langsung berinisiatif melakukan tekanan hingga area sepertiga lapangan akhir. Sergio Aguero, Javier Pastore, Lionel Messi, dan Angel Di Maria difungsikan untuk mengejar bola dan menekan hingga pertahanan Chile. Ini dilakukan sekaligus untuk mengimbangi agresivitas dan kecepatan para pemain Chile.

Pressing para pemain Argentina tidak bisa dibilang berhasil. Pasalnya, Chile tidak menerapkan permainan umpan pendek dari kaki ke kaki sebagai upaya membuat peluang. Sejak dari lini pertahanan, bola kerap diarahkan langsung menuju sisi Eduardo Vargas maupun Alexis Sanchez yang bermain lebih melebar.

Di lini tengah, empat gelandang Chile, yaitu Charles Aranguiz, Marcelo Diaz, Arturo Vidal, dan Jorge Valdivia memiliki fungsi yang amat berbeda dengan tiga gelandang Argentina. Aranguiz dan Vidal bermain lebih melebar, Diaz bertugas sebagai pemutus serangan yang melapis lini pertahanan, sedangkan Valdivia berfungsi menyokong serangan Chile dari lini tengah.

Tekanan Argentina sia-sia karena Chile tak terganggu dengan itu. Yang terjadi adalah terlambat turunnya dua fullback Argentina, Pablo Zabaleta dan Marcos Rojo, yang bisa naik sejajar dengan tiga gelandang Argentina.

Fungsi dari menekan hingga jauh ke depan adalah untuk memaksa lawan melakukan kesalahan. Tetapi fungsi tersebut nyatanya baru tercatat membuahkan satu hasil saat memasuki menit 37. Saat itu pemain bertahan Chile terlihat panik yang mengakibatkan salah umpan dan menghasilkan sepak pojok bagi Argentina. Sebuah taktik berisiko yang tak terlalu banyak memberi keuntungan.

Sepanjang 15 menit pertama, Chile melepaskan 4 attempt sedangkan Argentina tidak sama sekali. Chile pun unggul secara penguasaan bola hingga 61%. Ini pula yang membuat pertahanan Argentina sepanjang 15 menit pertama begitu sibuk dengan melakukan 12 tekel, 2 intercept, 8 clearences, dan 4 kali blok.



Membandingkan Cara Bertahan Kedua Kesebelasan

Rojo dan Zabaleta terlihat bermain seperti kurang disiplin. Saat bertahan, pos mereka kerap dieksploitasi Vargas maupun Sanchez. Ini terlihat hingga 30 menit awal pertandingan di mana Chile begitu leluasa membangun serangan.

Duet Javier Mascherano dan Lucas Biglia pun tidak bisa dibilang solid. Keduanya terlambat menutup saat Chile melakukan serangan. Ini yang membuat Nicolas Otamendi dan Martin Demichelis berjibaku menahan gempuran serangan Chile.

Saat menyerang, Vargas dan Sanchez tidak bergerak ke tengah melainkan ke kedua sisi yang kerap ditinggalkan dua fullback Argentina. Di tengah, Valdivia berperan untuk memberikan umpan ke kedua sisi maupun menyelesaikan peluangnya sendiri.

Sebuah cara menyerang yang tergolong sederhana sebenarnya, namun mampu menghasilkan beberapa peluang yang berpotensi gol. Argentina beruntung karena dari total 18 attempt yang dilakukan Chile sepanjang 120 menit pertandingan tidak ada yang berbuah gol.

Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Chile saat dalam kondisi bertahan. Mereka tak terlalu memaksa bermain menggunakan garis pertahanan tinggi. Wajar saja mengingat lawan yang mereka hadapi memang tak mudah, trio penyerang yang mempunyai kecepatan dan kemampuan menggiring bola.

Lewat pertahanan rendah ini kemudian Chile berhasil meredam Aguero, Messi, dan Di Maria (sebelum digantikan Lavezzi). Barisan penyerang ini bahkan kesulitan untuk hanya sekadar melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Kesempatan yang dimiliki hanya ada pada saat serangan balik saja, tetapi taktik Tata Martino yang tidak memberi kebebasan kepada Messi membuat bintang Barcelona itu tak banyak melakukan aksi.

Peran Messi dan Faktor Hilangnya Di Maria

Serangan Argentina menjadi kurang menggigit saat Di Maria ditarik keluar karena cedera pada menit 29. Sepanjang pertandingan di Copa America, Di Maria seringkali bertukar posisi dengan berada di sayap kanan. Selain itu, Di Maria pun bukan cuma berperan sebagai pengirim umpan tapi juga pencetak gol seperti yang ia lakukan ke gawang Paraguay. Di Maria menjadi senjata Argentina yang mengorbankan Aguero dan Messi untuk menarik keluar bek lawan.

Saat Lavezzi masuk, terdapat perubahan gaya serangan Argentina. Sisi kiri yang awalnya dihuni Marcos Rojo-Di Maria menjadi tidak seaktif pada awal pertandingan. Rojo lebih fokus membantu pertahanan sedangkan Lavezzi menunggu di sisi lapangan.

Perbedaan gaya permainan ini sebenarnya sempat menguntungkan Argentina. Lavezzi dan Aguero biasanya tidak ikut membantu pertahanan saat Argentina diserang. Ini yang membuat Messi memiliki banyak opsi untuk memberikan umpan saat melakukan serangan balik.



Ini juga yang sempat menghasilkan peluang emas Argentina pada menit ke-90. Messi yang bergerak dari lini tengah, memberikan umpan terobosan pada Lavezzi di sisi kiri serangan Argentina. Lavezzi pun memberikan umpan datar ke sisi kanan. Sayangnya, Gonzalo Higuain tidak bisa memanfaatkan peluang tersebut menjadi gol.

Tata Martino, pelatih Argentina, sepertinya ingin meniru peran Messi di Barcelona. Lebih banyak aktif di area kedua sebagai pengatur serangan ketimbang menjadi ujung tombak. Tetapi, sayangnya hal ini tak berjalan baik karena beberapa alasan.

Pertama, tentu karena keluarnya Di Maria pada babak pertama, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Kedua, kurang maksimalnya peran gelandang yang dimiliki oleh Argentina. Biglia dan Pastore tak mampu menjadi sosok seperti Ivan Rakitic atau Andres Iniesta yang tiba-tiba berada di kotak penalti lawan tanpa terkawal.


Grafis aksi Lionel Messi [whoscored]

Parahnya lagi, Messi sepanjang pertandingan masih harus menjadi pengatur serangan Argentina. Ia mau tak mau harus terus berada di area kedua dan dalam kondisi kotak penalti Chile yang penuh oleh pemain bertahan. Seajaib apapun momen yang dilakukannya, tentu saja Messi akan tetap kesulitan untuk mempersembahkan gol bagi La Albiceleste.

Penurunan Intensitas Pressing Chile

Permainan cepat Chile membuat Argentina sulit lepas dari tekanan. Hingga menit ke-45, Argentina baru melakukan 2 kali attempt, berbanding enam attempt yang dilakukan Chile. Dua attempt itu pun terjadi lewat situasi set-piece, karena Argentina memang sulit menembus pertahanan Chile.

Hal yang mulai terlihat adalah menurunnya tingkat pressing Chile hingga akhir babak pertama. Di Maria bahkan sempat beberapa kali berdiri tak terkawal, meskipun pergerakannya tidak menghasilkan peluang bagi Argentina.

Ini juga terjadi pada babak kedua, di mana Chile tidak seagresif pada 15 menit pertama. Argentina bahkan mampu membangun serangan sejak dari lini pertahanan yang dialirkan ke lini tengah, lalu ke lini depan. Kondisi ini amat berbeda dengan yang terjadi pada 15 menit pertama di mana Chile tidak membiarkan Argentina bebas menguasai bola.

Sejak menit ke-16 hingga menit ke-45, Argentina unggul penguasaan bola dengan 51 berbanding 49 persen. Pada babak kedua pun Chile tidak unggul terlalu jauh dalam penguasaan bola dengan 53% berbanding 47%.

Sepanjang babak kedua terdapat peningkatan agresivitas pertahanan Chile. Mereka melakukan 17 tekel, 12 intercept, 16 clearences, dan 8 kali blok.

Jumlah umpan Chile selama babak kedua pun menurun, begitu juga dengan Argentina. Chile melepaskan 202 umpan pada babak kedua dan 262 umpan pada babak pertama, sedangkan Argentina melepaskan 163 umpan berbanding 198 umpan pada babak pertama.

Namun, terdapat peningkatan pada arah umpan Argentina. Sepanjang babak kedua, mereka melepaskan 71 umpan ke area final third, sedangkan pada babak pertama hanya 57 umpan. Bagi Chile ini merupakan penurunan karena hanya melepaskan 81 umpan ke final third pada babak kedua, sedangkan pada babak pertama 92 umpan.

Jika melihat apa yang dilakukan oleh Chile pada babak pertama tadi, bisa jadi hal ini disebabkan oleh menurunnya stamina para pemain La Roja. Permainan dengan intensitas demikian, terlebih pada partai final, memang mempunyai tekanan tersendiri.



Kesimpulan

Taktik dari Tata Martino boleh dipertanyakan dalam pertandingan kali ini. Selain kalah, timnya juga terlihat inferior melawan tuan rumah Chile. Padahal, seperti yang kita tahu materi pemain yang dimiliki oleh Argentina ini bukanlah sembarangan. Rata-rata mereka menjadi penggawa kesebelasan-kesebelasan besar Eropa dan unggul jika dibandingkan milik Chile.

Mantan pelatih Barcelona itu juga lebih memilih memasukkan Lavezzi dan Higuain saat sedang membutuhkan gol ketimbang Carlos Tevez. Padahal terlihat jelas kala itu Argentina lebih membutuhkan penyerang yang punya pengalaman dan nama besar agar mampu menembus tembok kokoh Chile.

Mental pemain Chile sendiri terlihat tanpa takut sedikitpun saat memasuki adu penalti, kunci kemenangan La Roja. Fase yang terkadang lebih mengutamakan keunggulan mental ketimbang fisik. Terlihat saat semua eksekutor Chile berhasil memasukkan bola, diawali tendangan keras ke arah pojok Matias Fernandez dan ditutup sepakan ala panenka dari Alexis Sanchez.

Kondisi berbeda justru ada pada Argentina, sang penjaga gawang Sergio Romero gagal menghalau semua bola. Serta dari tiga eksekutor yang tampil hanya Messi yang mampu menendang dengan tepat, Higuain melebar jauh, sedangkan Ever Banega mampu ditepis oleh Claudio Bravo.

Nuhun for visit Kegagalan Tata Martino Memanfaatkan Potensi Argentina