Senin, 27 Juli 2015

Berita Bola Ramzan Kadyrov dan Politik Sepakbola di Republik Chechnya

Berita Bola Ramzan Kadyrov dan Politik Sepakbola di Republik Chechnya

sumber berita Ramzan Kadyrov dan Politik Sepakbola di Republik Chechnya : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/487d0f91/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C280C1139410C29768490C14970Cramzan0Ekadyrov0Edan0Epolitik0Esepakbola0Edi0Erepublik0Echechnya/story01.htm
Chechnya pernah bergelimang oleh desing peluru, ledakan bom, tetesan darah dan banjir air mata. Para pejuang etnis Chechen mengobarkan perlawanan terhadap Uni Sovyet, dan kemudian Rusia, dan menginginkan kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat penuh. Upaya itu tidak sepenuhnya berhasil. Chechnya gagal melepaskan diri dari Sovyet dan kemudian Rusia.

Dua jilid Perang Chehch-nya “hanya” menghasilkan kemerdekaan yang setengah-setengah. Chechnya memang mendapatkan otonomi dan berstatus republik, tapi masih berada di bawah bendera Federasi Rusia.

Pada Perang Chechnya jilid 1, pada dekade 1980an, Dzikhar Dudayev memimpin salah satu kelompok militan Chechnya yang paling gigih. Selain Dudayev, ada juga sosok Akhmad Kadyrov, seorang ulama dengan kharisma spiritual yang sangat besar. Salah satu pernyataannya yang legendaris adalah: “(Orang) Rusia berkali lipat lebih banyak dari orang Chechen, sehingga setiap Chechen harus membunuh setidaknya 150 orang Rusia.”

Ketika Perang Chechnya jilid II berkobar lagi pada 1999, Kadyrov berubah pikiran. Ia menawarkan diri membantu Rusia menyelesaikan perselisihan dengan para militan Chechnya. Kadyrov agaknya mulai jengah dan pilu dengan penderitaan orang-orang Chechen sepanjang pertempuran yang berdarah-darah itu. Ia juga mengkhawatirkan kian dominannya pengaruh mujahidin Timur Tengah yang membawa ideologi Wahabi ke Chechnya.

Ketika Rusia akhirnya bisa menguasai kembali Chechnya pada pertengahan 2000, Kadyrov dipercaya oleh pihak Rusia sebagai pejabat yang berkuasa di sana. Kadyrov menyetujui penunjukan itu dengan syarat Rusia bersedia memberi pengampunan/amnesti kepada para militan Chechnya. Jelas ia menginginkan rekonsiliasi agar dendam bisa dihentikan.

Saat Chechnya menggelar pemilihan umum yang pertama pada 2003, Kadyrov dengan mudah memenangkan pemilihan itu dan menjadi presiden pertama Republik Chechnya sebagai bagian dari Federasi Rusia. Namun kalangan militan, yang sebagian di antaranya tetap mendeklarasikan diri sebagai Republik Chehcnya Ichkeria, menganggap Kadyrov sebagai pengkhianat. Pada 9 Mei 2004, saat parade kemenangan Rusia dalam perang Chechnya jilid II di stadion sepakbola Dinamo, Kadyrov terbunuh dalam sebuah serangan bom.



Kini, anak Kadyrov, yaitu Ramzan Kadyrov, memimpin Republik Chechnya. Dialah presiden yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya. Ia pemimpin muda yang ambisius. Selain ingin terus merawat hubungan baik dengan Moskow, ia juga sangat ingin mengubah citra Chechnya dari wilayah konflik menjadi wilayah yang aman, hangat dan layak untuk dikunjungi siapa saja. Untuk merealisasikan ambisinya itu, Ramzan melakukan banyak hal, termasuk dengan memanfaatkan sepakbola.

Politik Sepakbola ala Ramzan

Sepakbola selalu dijadikan alat kampanye bagi Ramzan Kadyrov. Dirinya percaya jika sepakbola bisa meredam tendensi kekerasan Chechnya sekaligus menampik isu jika daerah kekuasaannya tersebut masih terlalu berbahaya bagi orang asing. Ramzan ingin mencitrakan Chechnya sebagai wilayah yang sudah aman dan ramah.
Nuhun for visit Ramzan Kadyrov dan Politik Sepakbola di Republik Chechnya