Senin, 20 Juli 2015

Berita Bola Samir Nasri Sebaiknya Mudik Saja

Berita Bola Samir Nasri Sebaiknya Mudik Saja

sumber berita Samir Nasri Sebaiknya Mudik Saja : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/484b2f31/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C210C115850A0C29720A910C14970Csamir0Enasri0Esebaiknya0Emudik0Esaja/story01.htm
Pada tahun 2011, Samir Nasri menjadi perbincangan menarik kala ia rela meninggalkan Arsenal untuk berlabuh ke Manchester City. Konon, saat itu Nasri mengaku sebenarnya diam-diam Sir Alex Ferguson pernah menemuinya di Paris guna membujuknya untuk hengkang ke Manchester United. Namun, Nasri menolak karena menurutnya itu akan menjadi persoalan terhadap Arsene Wenger dan Arsenal.

Tak disangka-sangka, dua minggu kemudian ia malah hengkang ke City. Ia beralasan bahwa saat itu Roberto Mancini, manajer City kala itu, terus-terusan menelponnya, menghubunginya, dan membujuknya untuk memperkuat lini serang Manchester biru.

Sontak pendukung Arsenal murka dengan Nasri yang hipokrit. Laga terakhir Nasri bersama Arsenal pun ditutup dengan sorakan dan siulan terhadapnya. Saat itu Arsenal menjamu Newcastle United di Emirates Stadium.

Nasri pun ditunjuk memakai ban kapten dan terlihat berusaha mencetak gol agar mulut pendukung The Gunners di stadion setidaknya tertutup rapat barang satu atau dua menit. Tapi, ternyata itu tidak terjadi karena skor akhir adalah skor kacamata.

Pemain Prancis kelahiran tahun 1987 ini butuh waktu setidaknya satu musim untuk menutup mulut para suporter Arsenal yang berisik. Ia menutup musim dengan keluar sebagai juara Liga Primer Inggris 2011/12.

Nasri lega karena ia mendapatkan apa yang ia tidak bisa dapatkan di Arsenal, yaitu sebuah trofi. Saat itu Arsenal memang sering diolok-olok karena mereka sudah puasa gelar selama 8 tahun lamanya.

Bersama The Citizens, Nasri berhasil memenangkan 2 trofi Liga Primer, 1 gelar juara Piala Liga Inggris, dan 1 gelar juara Community Shield. Cukup setimpal dengan kegerahan yang ia hadapi terhadap Arsenal.

Silva dan Sterling yang Dapat Menggeser Nasri

Empat tahun sudah berlalu sejak kepindahannya dari Arsenal. Dapat dikatakan performa Nasri tidak buruk namun cenderung menurun. Puncak permainan Nasri bersama City adalah 2 tahun lalu saat mereka juara lagi di musim 2013/14. Pada saat itu, Nasri diturunkan sebanyak 46 kali dengan membukukan 11 gol dan 11 assist.

Di musim 2014/15 lalu, performanya tidak sebaik sebelumnya karena dirundung cedera pangkal paha. Musim lalu, Nasri hanya mencicipi 23 laga, mencetak 3 gol dan 7 assist.

Satu-satunya kompatriot Nasri yang dapat menjadi perbandingan adalah Silva. Tidak seperti Nasri, performa Silva cenderung naik.

Silva datang ke City pada musim 2010/11, tepat satu musim sebelum Nasri datang. Pada musim pertamanya, Silva membantu City dengan 4 gol dan 7 assist. Pada musim berikutnya, saat Nasri datang, performa Silva naik dengan mencetak 7 gol dan 17 assist.

Jadi, bisa saja kala itu Mancini mendatangkan Nasri justru untuk mendongkrak performa Silva. Jika memang begitu, sepertinya niatan tersebut berhasil terealisasi.



Perbandingan David Silva,Samir Nasri, dan Raheem Sterling

Jika Nasri dan Silva memang didatangkan untuk saling bersaing demi meningkatkan performa, efek itu seharusnya juga berlaku untuk Nasri. Namun, jika performa Nasri malah menurun, Nasri harus bersiap-siap untuk musim depan karena City sudah berhasil mendatangkan Raheem Sterling dari Liverpool.

Persoalan Sikap yang Membuatnya Didepak dari Tim Nasional Prancis

Jika Sterling yang datang ke Manchester memberikan tekanan yang cukup membuat Nasri kesal, maka sebaiknya ia tidak mengulangi lagi sikap buruknya seperti yang ia pernah tunjukkan saat ia membela tim nasional Prancis.

Pada tanggal 9 Agustus 2014, Nasri memutuskan dirinya untuk pensiun dari timnas Prancis. Sebuah keputusan yang dinilai emosional dan terburu-buru karena usia Nasri saat itu pun belum menginjak usia senja.

Saat itu Nasri masih berusia 27 tahun, dan biasanya pesepakbola sedang dalam performa terbaik dan mendulang banyak kesuksesan di umur yang ini.
Tragedi bermula jauh sebelum itu, kala Nasri dan William Gallas, wakil kapten tim nasional Prancis, adu mulut dan bersitegang.

Gallas menganggap Nasri masih kekanak-kanakan dan bermulut kotor saat mereka berdua sama-sama memperkuat Arsenal. Yang membedakannya, Gallas adalah kapten, sedangkan Nasri sangat kesal terhadap Gallas karena musim berikutnya Gallas pindah ke Tottenham Hotspur yang notabene musuh Arsenal.

Persoalan itu berujung tidak baik. Nasri memutuskan untuk tidak bersalaman dengan Gallas dalam laga Arsenal melawan Tottenham.

Raymond Domenech, pelatih timnas Prancis, akhirnya tidak memanggil pemain kelahiran Marseille tersebut ke dalam daftar 23 nama pemain Prancis untuk berlaga di Piala Dunia 2010. Domenech khawatir Nasri akan berselisih lagi dengan Gallas karena Gallas saat itu adalah wakil kapten timnas Prancis.

"Zidane, Cantona, dan saya juga seperti itu. Ini [merupakan karakter] dari mana kami berasal. Karena ketika Anda tumbuh di jalan, Anda harus membela diri. Perjuangan menunjukkan karakter Anda,” begitu ucapan Nasri saat diwawancarai Mail mengenai persoalan-persoalannya.

Nasri mengaku tidak ada yang ia sembunyikan, bahkan sisi gelap itu pasti ada pada masyarakat Marseille dan mereka berani memunculkannya di hadapan publik. Perlu diketahui, Nasri, Zidane, dan Cantona sama-sama berasal dari Kota Marseille dan juga memiliki temperamen tinggi.

Saat Prancis memberhentikan Domenech dan menunjuk Laurent Blanc sebagai pelatih timnas, nama Nasri muncul lagi menghiasi skuat timnas Prancis. Nasri akhirnya berlaga di pentas internasional dan saat itu Prancis berlaga di Euro 2012 sampai pada perempat-final melawan Spanyol.

Pada pertandingan tersebut, Prancis harus kalah dengan dua gol tanpa balas. Lagi-lagi Nasri tak bisa membendung emosinya mengenai kekalahan itu. Saat dirinya bertemu media untuk membahas pasca pertandingan, Nasri malah terlihat marah terhadap wartawan.

Nasri mengatakan bahwa mereka (media) selalu menulis tentang kejelekan terhadap timnas Prancis. Tidak hanya itu, Nasri juga membumbui ucapan-ucapannya dengan kata-kata kotor. Kata-kata kotor yang tidak pantas untuk diucapkan seorang pemain sepakbola.

Insiden ini pun menjadi kasus utama FFF, Federasi Sepakbola Prancis. Akibat insiden itu, Nasri mendapat larangan tiga pertandingan Internasional dari FFF.

Persoalan-persoalan Nasri cukup membuat pandangan orang terhadap dirinya menjadi tercoreng. Tidak kecuali Didier Deschamps, legenda sepakbola Prancis sekaligus pelatih timnas Prancis yang menggantikan Blanc.

Deschamps menyatakan bahwa performa Nasri di luar ekspektasinya. Nasri pun tidak dipanggil untuk memperkuat timnas Prancis lagi dalam rangka Piala Dunia 2014. Ini adalah puncak dimana Nasri memutuskan untuk pensiun pada usia muda di laga sepakbola Internasional.

Nasri pernah Menjadi Anak Emas Prancis

“Ia (Nasri) bisa melakukan segalanya dengan baik. [Ia bisa] step-over, memiliki kemampuan menggiring bola dan menendang dengan kaki kiri maupun kanannya. Saya juga tidak yakin apakah ia dominan kaki kiri atau kaki kanan,” begitu ucapan Freddy Assolen, seorang pencari bakat dari kesebelasan Marseille yang memonitor Nasri dari umur 9 tahun.

Sejak memulai karir sepakbola di Olympique Marseille, hidup Nasri dihiasi puja-puji atas bakatnya. Nasri baru menginjak umur 17 tahun saat debutnya di Marseille pada musim 2004/05. Debut awal musimnya pun menjanjikan dengan 25 kali main,2 gol dan 1 assist.

Musim berikutnya, Nasri melangkah lebih jauh. Ia berhasil bermain 49 laga dan sempat mencicipi kompetisi Eropa, yaitu Piala UEFA (sebelum berubah nama menjadi Liga Europa) dan Piala Intertoto (yang saat ini sudah almarhum).

Dua musim setelahnya, Nasri dinobatkan sebagai pemain muda terbaik UNFP 2007. Nasri pun menjadi tumpuan Marseille saat Franck Ribery, kompatriotnya di Marseille, hijrah ke Bayern Munich.

Nasri menjadi pemain penting. Bakatnya pun mulai menjadi incaran kesebelasan-kesebelasan Inggris seperti Liverpool, Chelsea, Newcastle United, dan Arsenal. Kesebelasan terakhir lah yang menjadi pilihan Nasri untuk melanjutkan karirnya di luar Prancis.

“Samir adalah pelajar sepakbola, ia hidup untuk permainan sepakbola. Ia senang melakukan latihan bersama dan menonton kembali performanya di televisi. Menurutnya, itu membantu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam permainannya. Jika memang seseorang sangat cinta terhadap sepakbola, seperti inilah yang harus dilakukan, dan ini yang menjadi pembeda dengan yang lain,” ujar Gilles Grimandi, pencari bakat Arsenal setelah Arsenal sukses mendatangkannya dari Marseille pada tahun 2008.

Wenger sendiri mengaku bahwa Nasri telah berkembang dari pesepakbola-yang-bukan-pencetak-gol menjadi pesepakbola yang mampu membuat keputusan penting. Banyak yang menaruh harapan pada Nasri karena darah Aljazair yang ada di dalamnya sehingga ia sering dikait-kaitkan dengan Zidane. Namun, Nasri menyanggah pendapat itu karena walaupun juga memiliki kualitas menggiring bola, permainan Nasri lebih melebar.

Sangat disayangkan bakat yang dimiliki Nasri menjadi sia-sia karena sikap temperamental yang selalu ia ekspos. Jika Nasri mampu bersabar, mungkin akan berbeda.

Kini Nasri bukan lagi menjadi buah bibir media karena: Pertama, media sudah bosan memancingnya lagi; dan kedua, performanya bukan yang menjadi decak kagum penggemar sepakbola serta cenderung jadi biasa saja.

Jadi, apa gunanya meliput Nasri jika ada banyak pemain yang memiliki performa lebih baik? Sehingga, jika saja Nasri mau memperbaiki karirnya, saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat. Mungkin dengan kembali ke Prancis dan merumput lagi di kompetisi Ligue 1 diharapkan akan bisa mengulang kembali kejayaannya.

Pulang Kampung ke Marseille

Jika Nasri kehilangan performa terbaiknya belakangan ini, Marseille justru sedang kehilangan pemain-pemain terbaiknya musim lalu. Gianelli Imbula, gelandang tengah energik ini berlabuh ke FC Porto.

Dua klan Ayew, Jordan dan Andre Ayew, dua kakak-beradik ikonik Marseille ini pindah ke kesebelasan lain. Terakhir, ada Dimitri Payet. Gelandang versatille ini mencoba mencicipi kompetisi Liga Primer bersama West Ham United.

Nama terakhir, yaitu Payet, adalah pemain yang hampir sama gaya bermainnya dengan Nasri. Payet dalam komando Marcelo Bielsa, ditempatkan menjadi gelandang serba bisa. Mulai dari menjadi penendang free-kick, tendangan penjuru, hingga mencetak assist.

Musim lalu, Payet berhasil melakukan umpan kunci sebanyak 117 kali dengan total main 36 kali di Ligue 1. Ia juga mampu mencetak 17 assist dan 7 gol.


Perbandingan Dimitri Payet, Samir Nasri, dan Florian Thauvin

Payet menjadi pemain yang paling berpengaruh pada performa Marseille musim lalu. Namun Payet memutuskan untuk hengkang ke Inggris bersama West Ham. Perginya Payet menyisakan pemain muda andalan Florian Thauvin di posisinya.

Ini merupakan momen yang baik untuk Nasri jika kembali merumput di Prancis, khususnya di Marseille. Tempat kosong yang ditinggalkan Payet akan menjadi titik balik Nasri untuk mencapai prestasi-prestasi baru dan memperbaiki citranya setidaknya di mata musuh bebuyutannya, yaitu media.

Bayangkan, sanjungan untuk Nasri jika ia pulang ke kampung halamannya dan bagaimana reaksi masyarakat jika Marseille membuka pintu lebar untuk Nasri. Tempat kosong itu juga memang yang biasa Nasri lakukan di City maupun di Arsenal. Jadi, sepertinya tidak akan jadi masalah jika Nasri mendapatkan tempat di Marseille sebagai gelandang serang. Bahkan sebagai kapten jika Bielsa mau.

Masalah lain yang harus ia hadapi adalah Bielsa, pelatih Marseille saat ini. Bielsa punya sejuta program dengan pelatihan super disiplin yang mampu memicu temperamen Nasri datang kembali.

Tapi, Nasri memang dari awal karirnya di Marseille selalu berhadapan dengan pelatih baru. Awal tiga musimnya di Marseille, Nasri telah bekerjasama dengan empat pelatih sebelum pindah ke Arsenal. Jika memang Grimandi, pencari bakat Arsenal, mengatakan bahwa Nasri adalah pesepakbola yang pandai belajar, maka apa yang Bielsa programkan adalah hal yang menyenangkan bagi Nasri.

Tapi tetap saja, sikap Nasri yang temperamen dan sisi buruk lainnya harus pintar ia pendam. Sepertinya itu menjadi masalah utama dalam memecahkan kasusnya sendiri.

Banyak atlet yang bermasalah dengan temperamennya dan salah satunya adalah Roger Federer, petenis asal Swiss. Federer memiliki kekuatan back-hand satu tangan yang luar biasa tajam namun terbiasa untuk membanting raket dan mengeluarkan kata-kata kasar nan tajam pula di tengah-tengah pertandingan.

Namun, setelah Federer memperbaiki sikap dan temperamennya, bukan hanya performanya saja yang naik, namun gelar-gelar pun bermunculan dan puncaknya ia pernah menjadi petenis nomor 1 di dunia.

Jadi, jika Nasri bisa memperbaiki temperamen dan mencoba lebih sabar di dalam maupun di luar lapangan, maka kejayaan itu pasti datang. Nasri sendiri yang mengatakan bahwa sikap temperamennya adalah perjuangan terhadap hal-hal (media) yang memojokannya terus-menerus.

Jika memang itu perjuangan, maka hasil manis akan ia dapat di akhir cerita. Mungkin ia akan menarik keputusannya mengenai pensiun di laga internasional dan mencoba merumput lagi. Allez, Samir! Minal aidin wal faidzin.



===

* Penulis anggota redaksi @PanditFootball dengan akun twitter: @iiirf


Nuhun for visit Samir Nasri Sebaiknya Mudik Saja