Senin, 27 Juli 2015

Berita Bola Socios, Socis dan Demokrasi dalam Kepemilikan Kesebelasan di Spanyol

Berita Bola Socios, Socis dan Demokrasi dalam Kepemilikan Kesebelasan di Spanyol

sumber berita Socios, Socis dan Demokrasi dalam Kepemilikan Kesebelasan di Spanyol : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/48784d14/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A70C270C1911150C29764170C14970Csocios0Esocis0Edan0Edemokrasi0Edalam0Ekepemilikan0Ekesebelasan0Edi0Espanyol/story01.htm

"Elections belong to the people. It's their decision. If they decide to turn their back on the fire and burn their behinds, then they will just have to sit on their blisters."

Abraham Lincoln secara gamblang mejelaskan bagaimana demokrasi di suatu komunitas sosial berjalan. Semua hal baik dan buruknya akan mereka tanggung sendiri ketika menuai hasil pilihannya tersebut. Masing-masing ikut bertanggung jawab dalam dan dengan pilihannya itu. Jikapun pilihannya terbukti salah, karena orang yang dipilih ternyata tidak amanah, demokrasi memberi peluang untuk mengoreksinya lagi dalam pemilihan berikutnya. Tidak ada diktator, tidak boleh ada diktator.

Dalam dunia sepakbola, terutama di Eropa, tak banyak klub yang memiliki pesta demokrasi seperti pemilihan presiden oleh para anggotanya. Sudah barang tentu, ranah politik ini akan dibumbui dengan segala kontroversi, janji-janji manis serta saling serang antarkandidat itu sendiri. Selayaknya kampanye dalam politik praktis.

FC Barcelona, seperti Real Madrid, Athletic Bilbao dan Osasuna adalah empat klub tradisional asal Spanyol yang masih menjunjung tinggi pesta demokrasi tersebut. Mereka, lewat para socis (anggota socios), berhak menentukan pilihan mereka dalam rangkaian pemilihan umum yang digelar biasanya antara 4 tahun, 5 tahun atau bahkan 6 tahun sekali. Siapa yang akan memimpin kesebelasan ditentukan oleh pilihan para socis ini.

Dalam masa kampanye, para kandidat presiden biasanya memaparkan proyek-proyek jangka panjang bagi kemajuan kesebelasan, baik dari skema bisnis, keuangan. Tapi janji-janji jangka pendek biasanya lebih mendominasi. Janji-janji jangka pendek ini seringkali berupa iming-iming akan mendatangkan pemain bintang.

Kasus termasyhur tentu kampanye politik Florentino Perez di tahun 2000, yang berjanji mendaratkan Luis Figo dari sang rival, Barcelona. Ia berjanji kepada para socis Real Madrid bahwa jika bintang Portugal itu gagal bermain untuk Madrid, maka ia akan membayar penuh tiket musiman para suporter Real Madrid. Dan janji itu bisa ia penuhi.



Kasus serupa pernah menimpa kampanye Joan Laporta di tahun 2003 yang ingin mendatangkan David Beckham. Namun, hal tersebut hanyalah pancingan semata untuk menaikkan jumlah voter untuk Laporta itu. Karena pada praktiknya, yang didatangkan Joan Laporta adalah Ronaldinho dari Paris St Germain.

Blessing in Disguise, malahan Ronaldinho-lah yang membuka kran kejayaan Blaugrana pasca kering gelar di tahun 2000-an awal. Ronaldinho menjadi katalisator kesuksesan Barcelona di era kepelatihan Frank Rijkaard, termasuk menjuarai Liga Champions 2005/2006.

Nuhun for visit Socios, Socis dan Demokrasi dalam Kepemilikan Kesebelasan di Spanyol