Sabtu, 01 Agustus 2015

Berita Bola Menanti Nasib Duo Milan di Tangan Pemilik Asing

Berita Bola Menanti Nasib Duo Milan di Tangan Pemilik Asing

sumber berita Menanti Nasib Duo Milan di Tangan Pemilik Asing : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/48a1e1ea/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A80C0A20C10A2640A0C2980A9910C14970Cmenanti0Enasib0Eduo0Emilan0Edi0Etangan0Epemilik0Easing/story01.htm
Pada bursa transfer musim panas ini, dua klub asal kota Milan unjuk kekuatan dari segi finansial dengan memboyong pemain-pemain berharga mahal. Ya, AC Milan dan Internazionale Milan, tak ragu untuk mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan pemain yang mereka inginkan.

Saat artikel ini ditulis, Milan telah membelanjakan sekitar 62 juta euro untuk membeli lima pemain, dengan transfer Carlos Bacca yang nyaris 30 juta euro. Sementara Inter, hanya kalah sekitar satu juta euro dari Milan dalam membeli enam pemain baru, di mana Geoffrey Kondogbia bernilai tak jauh berbeda dengan Bacca yang direkrut Milan.

Pengakuisisian oleh investor asing menjadi faktor utama kedua tim untuk kembali menggeliat pada bursa transfer musim panas ini. Suntikan dana segar dari para pengusaha kaya tersebut membuat keduanya mulai lebih agresif dalam perekrutan pemain.

Keberanian duo Milan ‘menjual diri’ pada investor asing pun sebenarnya terinspirasi dari apa yang telah ditorehkan Roma. Ya, Roma menjadi pionir kesebelasan Italia yang cukup mengalami peningkatan baik secara prestasi maupun finansial. Tapi, apakah cara yang dilakukan duo Milan ini sudah tepat?

AS Roma Sebagai Contoh

Sebelum Erick Thohir (Indonesia) mengakuisisi Inter pada 2013 dan Bee Taechaubol (Thailand) mengakuisisi Milan pada tahun ini, AS Roma menjadi klub Italia pertama yang dimiliki oleh pengusaha asing. Pada April 2011, kelompok investasi asal Amerika Serikat yang dipimpin Thomas Di Benedetto, secara resmi mengakuisisi "Serigala Ibu Kota".

Pengakusisian ini terjadi karena finansial Roma terganggu setelah pada 2010 terancam mengalami kebangkrutan, ketika di tahun tersebut manajemen Roma lebih memfokuskan diri untuk menyelesaikan utang-utang mereka saat masih dipimpin oleh keluarga Sensi. Ini pula yang membuat prestasi mereka anjlok pada musim 2010/2011, harus puas finish di urutan ke-6, setelah di musim sebelumnya menjadi runner-up Serie A.

Pada Juli 2010 utang Roma kabarnya mencapai 300 juta euro atau sekitar 423 juta dollar AS pada bank Italia yang berbasis di kota Milan, UniCredit Spa. Lewat UniCredit-lah Di Benedetto cs berhasil mengakuisisi Roma.

Awalnya, Di Benedetto cs mengakuisisi UniCredit Spa terlebih dahulu dengan membeli saham bank tersebut sebesar 60%. Lalu, untuk menyelelsikan utang Roma pada UniCredit, keluarga Sensi menawarkan kepemilikan saham di Roma sebesar 67%.

Di Benedetto kemudian menjadi presiden AS Roma ke-22. Namun karena Di Benedetto tidak terlalu berpengalaman di bidang bisnis olahraga, ia pun menyerahkan kepemimpinan Roma pada salah satu investor di kelompok investasi Benedetto, James Pallotta, setelah 11 bulan memimpin juara tiga kali Serie A ini.
Nuhun for visit Menanti Nasib Duo Milan di Tangan Pemilik Asing